Langsung ke konten utama

6+ Dampak Negatif Micro Management Pada Bisnis Kuliner [Wajib Tahu]

Baca Juga

√ Bisnis kuliner memang harus diatur secara baik, entahlah itu oleh pemilik usaha, manager, atau pegawai yang dipercayai untuk pimpin pegawai lain (menurut blog-eko27.com). 

Tetapi bagaimana bila faksi itu mengurus terlalu berlebih atau mengaplikasikan mekanisme micromanagement?

Apakah itu micromanagement? Secara singkat, micromanagement ialah keadaan di mana seorang atasan mengurus dan atur pegawai-karyawannya terlalu berlebih dan terlampau menguraikan tiap detil. 

Ini rupanya dapat berpengaruh negatif tidak cuman untuk pegawai tetapi usaha kulineran, lho!

Dampak Negatif Micro Management

Untuk pengetahuan yang lebih bagus mengenai ini, kami telah merangkum 6 dampak negatif micro management untuk pegawai dan usaha kuliner berikut ini :

Dampak Negatif Micromanagement Pada Bisnis Kuliner

1. Karyawan Bisnis Kuliner Merasa tidak bisa Berkembang

Salah satu dampak negatif micro management ialah pegawai usaha kulineran tidak bisa meningkatkan kekuatannya dengan optimal.

Kenapa? Karena atasan yang mengurus dengan mekanisme micromanagement condong terlampau memerhatikan tiap gerak-gerik pegawai, bahkan juga mengomentari dan mendikte tiap cara yang perlu diambil.

Seringkali atasan yang mengaplikasikan mekanisme micromanagement akan menggantikan tugas yang semestinya dilaksanakan pegawai karena dia berasa tidak sabar atau berasa dapat melakukan sendiri.

Sikap ini cuman akan membuat pegawai tidak mempunyai peluang meningkatkan kekuatan, dan berasa tidak percaya dengan kekuatannya.

2. Karyawan bisnis kuliner bisa terkena stress

Bayangkan jika tiap cara yang diambil selalu dipantau dan dinilai satu demi satu. Tentunya tidak nyaman, kan? Sama seperti dengan pegawai usaha kulineran yang terlampau dipantau dan dinilai tiap beberapa langkahnya, mereka akan rasakan hal sama.

Belum juga bila atasan itu mengomentari secara pedas dan melemparkan kalimat yang tidak enak didengarkan atau kasar. 

Pegawai yang alami ini lama-lama dapat alami depresi dan penekanan yang berpengaruh tidak cuman pada tugas tetapi kehidupan setiap hari.

3. Karyawan Bisnis Kuliner Rentan Terkena Masalah Kesehatan

Stres sering dikaitkan dengan kesehatan. Bahkan juga telah banyak riset yang memperlihatkan jika orang yang alami depresi condong rawan terserang penyakit seperti napas sesak, permasalahan pencernaan, stroke, sampai penyakit jantung. 

Itu maknanya, micromanagement yang dapat mengakibatkan depresi pada pegawai bisa membuat mereka rawan terserang penyakit.

4. Karyawan Bisnis Kuliner Merasa tidak Nyaman berada di Tempat Kerja

Karyawan yang berasa nyaman pada tempat kerja semakin lebih kemungkinan untuk bekerja segenap hati. 

Sayang, micromanagement cuman akan membuat pegawai berasa tidak nyaman ada di tempat kerja karena penekanan yang dirasakan. 

Akhirnya, pegawai bukanlah konsentrasi pada tugas tetapi malah cuman repot menanti waktu pulang. Pegawai yang berasa tidak nyaman juga akan memungkinkan perpanjang waktu cuti atau mangkir dari tugas.

5. Karyawan Bisnis Kuliner Cenderung tidak Terbuka pada Atasan

Micromanagement membuat pegawai yang tidak dapat terbuka pada atasan dengan bebas karena takut suaranya tidak akan didengarkan, atau takut saat dia mengumandangkan gagasannya malah si atasan akan merendahkan atau mengejeknya. 

Walau sebenarnya dalam memulai usaha kulineran, ada saatnya perlu dialog antara karyawan yang maksudnya untuk capai persetujuan atau mendapati gagasan untuk lebih memajukan usaha. 

Bisa saja karyawan yang sebetulnya punyai gagasan bagus malah cuman diam diri sebab menganggap tidak percaya untuk memiliki pendapat.

6. Peningkatan Jumlah Pengunduran Diri

Karyawan bisnis kuliner yang berasa depresi, tidak dapat meningkatkan kekuatan, dan tidak kuat dengan kondisi pada tempat kerja semakin lebih kemungkinan untuk memundurkan diri. 

Selanjutnya, bisa saja dia berpindah ke usaha kulineran pesaing atau bahkan juga jadi pesaing tersebut dengan bawa resep yang dia dalami dari tempat dia bekerja awalnya. Ini pasti dapat bikin rugi usaha kulineran.

Disamping itu, cari seseorang sebagai alternatif pegawai yang memundurkan diri belum pasti gampang. Usaha kulineran akan keluarkan dana lebih buat penerimaan dan training. 

Belum juga bila jumlah pegawai yang memundurkan diri lumayan banyak dan kerap. Harus dipahami jika makin tinggi jumlah pemunduran diri pada sebuah usaha, rekam jejak tempat itu bisa juga dipengaruhi.

Komentar